Saturday, January 31, 2009
Friday, December 5, 2008
Tidaklah Sendiri
“Tampak agresif!”
Kau kira aku begitu?
Dalam goncangan kereta api kau berpikir
Maka dalam remangnya suasana, aku pun memutar otak
Tenang saja, aku hanya termangu sejenak
Mengagumi indahnya dirimu
Menata raga layaknya ingin menggelimuti hasrat
Tapi sang angin terus mendorongku
Dan aku jatuh
Engkau yang bersikap tolol, tidak jua melihatku!
Dan engkau munafik
Sadarkah engkau, kita sedang kehilangan nyawa
Kita tidak sadarkan diri
Cuma sepintas angin yang menjatuhkan
Ingatlah, kita terjatuh bersama
Maka, pikir dengan otak sehat!
aku tidak sendiri, aku tidak merencanakannya
Engkau malah ingin lari
Tapi engkau tidak ingin tertinggal
Anisa Widya Kirana_Poppy
08:58 WIB - 5 Desember 2008
@ Kawasan Industri Pulogadung, Jakarta Timur
Wednesday, December 3, 2008
GELORA…. (bagian kedua)
Gila! Gila! Gila!
Berikan aku oksigen
Tolong!
Aku tak ingin diperdaya halusinasi seperti ini
(menjauh,menjauh,menjauh)
Lepaskan segala bentuk gelora di dada
(lari,lari,lari)
Melawan gelora yang memperlakukan aku seperti gangsing
(tersedak)
(seperti nyawa yang akan tercabut)
Oh tidak!
Aku belum mau mati karenanya!
Kau bodoh!
Kau biadab!
Aku terlanjur tersungkur dalam jurangmu!
Apa yang kau inginkan?
(dan menangis)
Jangan telan aku bumi
(terus menangis)
Aku mencintaimu
Anisa Widya Kirana_Poppy
2 Desember 2008
Setelah kembali ke kota Jakarta - di sebuah atmosfir nan gelap
GELORA … (bagian pertama)
Jangankan aku berpikir untuk bergelora
Dalam setetes air hujan pun aku tak mau berdoa
Wajahku masam, harapanku begitu tipis
Aku, saat itu, mungkin lebih baik terjun bebas
Corak berwarna biru yang tak kasat mata
Menatapku dalam jiwa yang masih kosong
Satu dua pulau yang mesti kulompati
Dan aku terbang menemui sebuah bayangan
Pendaratan yang aku pikir hanya karena gerakan ombak
Tetapi aku yang tak hentinya terombang-ambing
Ia kadang ingin terpisah dan ingin bersama
Entah..
Rasanya ingin menusuk jantung sendiri
Gelora, tolong tangkap aku
Anisa Widya Kirana_Poppy
Sore hari pada 30 November 2008
ditulis dalam perjalanan dari Solo menuju Semarang,
Terima kasih untuk Ferry Anthonny sebagai saksi pembuatan puisi ini
Sunday, October 5, 2008
Senyumku
Jangan satu detik pun terlewati
Ketika di depan tiang bendera ada yang berkata
“Senyuman palsu! coba terawangi sanubarimu!”
Aku berkilah
“Aku benar-benar tersenyum, sok tahu!”
Ternyata dia keras kepala
“Kau berbohong!”
Aku berbohong?
Apakah mataku kini sudah mampu berbohong?
Apakah senyumku kini hanya sebuah riasan?
Apakah sebatang gincu sudah tak berguna lagi?
Dia gila!
(namun dia menguras pemikiranku)
Dia sinting!
(namun dia menyadarkan diriku pada sebuah titik)
Hanya sang surya yang tahu jawaban semua ini
Hanya manusia bersayap malaikat yang membentuk semua ini
Hanya minuman keras yang membuatku kelimpungan
Hanya dunia yang gila ini sebagai penyebabnya
Wednesday, August 6, 2008
Biar
Seperti tanpa sebuah kepastian
Aku tidak menunggu kehadiran sang surya
Tapi aku terus mengayuh sepedaku
Di depan sana ada kubangan besar
Aku yakin aku akan menjatuhkan tubuhku ke dalamnya
Aku yakin aku harus lari dari sang surya
Aku yakin aku tak akan membutuhkannya lagi
Katakan bahwa aku ini sombong
Aku selalu menjadi manusia yang pongah
Sampai-sampai aku tak membutuhkan sinarnya lagi
Aku harus lari dari sang surya
Biar saja ia menjauh dariku
Sudah cukup anugerah yang ia berikan
Sudah cukup cahayanya menyinari hidupku selama ini
Sekarang biarkan aku pergi untuk selamanya
Bukan karena wahyu
Bukan karena tanah di Timur tengah
Bukan karena rasi bintang Capricorn
Bukan karena pesan dari barat yang sempat menjeratku
Biarkan aku duduk setelah mengayuh sepedaku
Biarkan aku menjadi keras kepala pada saatnya nanti
Anisa Widya Kirana_Poppy@2008
Kebon Jeruk, Jakarta Barat
Wednesday, July 23, 2008
Tanpa Masa Lalu
Menjalani hidup tanpa pernah mengalami hari kemarin
Menerobos jalan tol tanpa sadar akan masa lalu
Dan aku telah mati, aku mati terbunuh oleh akal yang hilang
Mati, mati dan hanya mati
Seperti masa lalu yang terus mencabikku!
Membuat jiwaku terasa mati
Namun ketika aku menatap lewat kaca, aku ternyata tetap hidup!
Aku hidup seperti tengkorak yang tak pernah dibalut daging,
tentu karena aku tak punya masa lalu!
Aku hidup seperti darah segar yang tercecer, diinjak-injak,
karena aku tak berharga, aku cuma sampah!
Written somewhere in Depok, West Java
February 28th 2008_Anisa Widya Kirana
Thursday, May 8, 2008
Ujung Demi Harga Dirinya
Hidupnya bagaikan api neraka yang terselimuti lumuran salju. Dia hanya dapat melangkah di atas air dan mengikuti aliran sungai. Namun ia tak pernah menemukan sebuah muara baginya. Dalam hidupnya tidak pernah ada akhir. Tiada akhir baginya bukan berarti keabadian. Ia hanya tak pernah menemukan ujung. Ia tak pernah menemukan jawaban.
“..There is a tendency to be high and perfect, but why?”
Apakah ia pantas disamakan dengan bangkai tikus yang tercecer di pinggir jalan?
Aku rasa tidak. Aku rasa ia membutuhkan sedikit penghargaan untuk memoles hidupnya menjadi hampir sempurna.
Namun ia terus berjalan tanpa suatu penghargaan. Kepalanya terseret dan terinjak-injak oleh pijakan mereka yang tak berperasaan.
“..I heard it, don`t you realise?”
Mereka pikir dirinya cacat. Mereka pikir dirinya bodoh, tidak beradab, dan bahkan mereka mengira dirinya primitif.
Gila! mereka gila!
Dirinya tidak seperti itu. Walaupun mereka pernah tidak meninggikan arti kejujuran, namun ia sadar. Ia tahu bahwa ia dibohongi. Ia tahu bahwa dirinya hanyalah korban dari mereka yang bejat.
“..I will move on to show you the precious me.”
Namun ia tetap berjalan, walau ia belum tahu apakah ada ujung baginya atau tidak. Ia hanya tahu bahwa Tuhan tidak pernah tidur. Ia kemudian melangkah, dengan senyumnya. Membuktikan bahwa ia juga memiliki harga diri.
Kebon Jeruk, Jakarta Barat_8 Mei 2008
Anisa Widya Kirana_Poppy@2008
Monday, April 14, 2008
setrum, petir!
secara tiba-tiba
bergetar, setrum! setrum!
ah! kesetrum!
petir, pergi! jauh-jauh!
ah! tidak! petir tak mau pergi!
aku terkena setrum!
(dan aku tersungkur)
(aku terjatuh)
(aku terkulai lemah, tak berdaya)
petir dihujani seribu cinta
(aku diam)
(aku terpana)
petir adalah dewanya
jutaan meteor jatuh ke bumi
bersama petir mereka berdansa
(aku juga ingin berdansa)
(petir juga ingin berdansa)
namun jutaan meteor pun menyerangku
(aku tetap ingin berdansa)
(petir menarik tanganku untuk berdansa)
aku kena setrum!
petir!
tolong! ah!
(dan aku berdansa dengan petir)
(dalam kegelapan jiwa kami)
Anisa Widya Kirana_Poppy@2008
Jakarta Barat, 14 April 2008
ditulis tepat di depan pinggir tol Kebon Jeruk-Merak
Saturday, April 12, 2008
Bercinta
ketika awan nyatanya bergerak lebih cepat dari biasanya,
membuat hari berganti semakin cepat
entah kenapa awan mengubah siklusnya.
awan sadar bahwa pelangi telah sekian lama bersanding untuknya
seperti pengemis cinta yang harga dirinya patut diinjak-injak
pelangi tetap berwarna, dalam harunya
awan tetap dengan warna putihnya yang tak berdosa
dan aku hanyalah pengkhianat bagi pelangi
ketika awan bercinta denganku dibalik cinta pelangi
dan aku hanyalah pengkhianat bagi awan
ketika petir datang menyambar nyawaku
membuatku mati dalam kegelapan
untuk bercinta dengannya
apakah ini arti bercinta dalam makna cinta?
atau ini hanyalah cinta karena sedang bercinta?
yang membuat manusia buta
yang membuat manusia menjadi sakit jiwa
Anisa Widya Kirana_Poppy@2008
12 April 2008..Depok, Jawa Barat