Ujung Demi Harga Dirinya
Hidupnya bagaikan api neraka yang terselimuti lumuran salju. Dia hanya dapat melangkah di atas air dan mengikuti aliran sungai. Namun ia tak pernah menemukan sebuah muara baginya. Dalam hidupnya tidak pernah ada akhir. Tiada akhir baginya bukan berarti keabadian. Ia hanya tak pernah menemukan ujung. Ia tak pernah menemukan jawaban.
“..There is a tendency to be high and perfect, but why?”
Apakah ia pantas disamakan dengan bangkai tikus yang tercecer di pinggir jalan?
Aku rasa tidak. Aku rasa ia membutuhkan sedikit penghargaan untuk memoles hidupnya menjadi hampir sempurna.
Namun ia terus berjalan tanpa suatu penghargaan. Kepalanya terseret dan terinjak-injak oleh pijakan mereka yang tak berperasaan.
“..I heard it, don`t you realise?”
Mereka pikir dirinya cacat. Mereka pikir dirinya bodoh, tidak beradab, dan bahkan mereka mengira dirinya primitif.
Gila! mereka gila!
Dirinya tidak seperti itu. Walaupun mereka pernah tidak meninggikan arti kejujuran, namun ia sadar. Ia tahu bahwa ia dibohongi. Ia tahu bahwa dirinya hanyalah korban dari mereka yang bejat.
“..I will move on to show you the precious me.”
Namun ia tetap berjalan, walau ia belum tahu apakah ada ujung baginya atau tidak. Ia hanya tahu bahwa Tuhan tidak pernah tidur. Ia kemudian melangkah, dengan senyumnya. Membuktikan bahwa ia juga memiliki harga diri.
Kebon Jeruk, Jakarta Barat_8 Mei 2008
Anisa Widya Kirana_Poppy@2008