Wahyu Yang Pergi Saat Sang Surya Menjelma
Entahlah. Yang aku tahu, aku telah mencintai sesama makhluk ciptaan Tuhan dengan sebusuk-busuknya jiwaku. Namun jika wajah-wajah itu hanya kemunafikan untukku, aku pasrah. Entah, apakah aku ini najis yang patut diberi cinta atau tidak.
Pagi ini, udara pagi dan semangat yang berkobar telah membawaku ke dalam jalan pemikiran yang jauh lebih positif. Aku sudah melahap sejumlah anti-biotik untuk menyembuhkan sakit jiwaku. Aku percaya diri. Aku percaya diri ketika menghadapi wanita kaukasoid berambut keriting di hadapanku. Walaupun aku orang Asia yang mungkin saja dipandang sebelah mata olehnya. Aku menembaki wanita kaukasoid itu dengan kalimat-kalimat yang membela negaraku. Aku berusaha menempatkan posisi negaraku dalam asumsi yang berbeda dalam otaknya. Ironis! ia malah membalikkan pernyataanku dan membela negara tetanggaku. Negara tetangga yang sudah jelas mencuri banyak kekayaan negaraku. Aku ingin menangis, untuk diriku dan negaraku. Untuk diriku yang jelas-jelas tidak dicintai oleh siapapun dan untuk negaraku yang tidak mendapatkan rasa cinta dari sisi manapun. Perdebatan itu membuat wanita kaukasoid pergi meninggalkanku di tengah panasnya kota Depok.
Siang ini, aku hampir mengalami serangan jantung. Hanya ada setitik harapan agar jiwaku mau hidup seperti biasanya. Menit demi menit masuk ke dalam dunia teknologi nan canggih, sambil menghitung uang receh yang aku miliki. Harapan demi harapan yang tak kunjung nyata. Sebuah pesan singkat yang tidak ditanggapi, membuatku kembali berpikir; wahyu belum juga turun untukku. Maka bertahanlah dalam kesendirian, karena aku sadar bahwa aku hanya seekor kera najis yang hanya akan dihujat dan disakiti.
Apa?cinta?omong kosong!siapa yang akan mencurahkan cinta pada diriku?ku rasa, tak seorang pun bersedia.
Maka kemudian aku menyeret tubuhku pada gerombolan suku Arya. Percaya bahwa manusia dari kumpulan orang paling cerdas di dunia itu akan menerimaku.
Dugaanku benar. Dalam kesendirianku di tengah siang membakar itu, mereka telah menjadi sinar harapanku. Sinar harapan yang paling tidak telah mencerahkan jiwa dan pemikiranku, walaupun aku lebih mengharapkan wahyu untuk segera turun padaku.
Aku sempat melupakan tentang wahyu itu untuk sesaat, ketika sang pangeran mempesona membawaku bersama kereta kudanya. Kami tidak bermesraan dalam perjalanan. Namun, aku tahu bahwa ia menaruh harapan agar dapat memiliki cintaku. Aku menolak! di dalam perjalanan aku tidak bisa melayaninya karena aku masih saja memikirkan wahyu yang tak jua datang. Dengan sikap manis dan berwibawa, sang pangeran menurunkan diriku di tengah jalan. Ia tidak menghujatku, tapi aku tahu ia kecewa. Kini, aku kembali sendiri.
Sore ini, aku tidak ingin kembali ke kediaman sebelum dapat mengontrol jiwaku. Aku sendirian, makan bakmi di pinggir jalan. Menikmati semangkok bakmi sambil berharap kehadiran wahyu. Tak tahunya, bukan wahyu yang muncul melainkan wanita tua sakit jiwa sungguhan. Badannya bau, tak pernah mengganti pakaiannya, memaksa minta makanan dan pipis sembarangan di tengah-tengah kerumunan tamu warung bakmi. Dubur dan vagina yang dapat ku lihat dengan mata telanjang.
“Tolong!tutup!tutup!”, teriak seorang pria setengah baya yang duduk di sebelahku. Wanita tua yang sakit jiwa itu tidak menggubris ucapannya. Bibirku rapat terkunci, namun sesungguhnya batinku ingin melompat keluar dari ruh yang bergejolak ini. Aku tak tahan - melihat bagian tubuh yang juga aku miliki sebagai wanita - dipertontonkan secara gratis. Benar-benar wanita tua sakit jiwa yang sudah kehilangan urat malu. Aku muak! maka aku pergi meninggalkan warung bakmi itu.
Petang hari, aku sedang menikmati pemandangan melalui suatu perjalanan hening. Jalan berliku-liku dengan iringan pohon rindang di kanan dan kiri. Aku tersenyum tanpa sebab untuk jiwaku. Inikah obat penawar yang Tuhan berikan untuk menyembuhkan sakit jiwaku? Inikah cara Tuhan untuk membangkitkan semangat hidupku? Terima kasih Tuhan, aku yakin engkaulah satu-satunya yang mencintai diriku. Yang mencintai diriku walaupun aku berlumuran dosa. Terima kasih Tuhan karena telah memberiku kedamaian ini. Aku memang sendiri, tapi KAU selalu ada.
Petang hari, perjalananku terhenti. Tak ada lagi pemandangan indah di depan mataku. Seperti terbawa oleh mesin waktu, tiba-tiba aku terjebak dalam situasi rutin. Jalan berubah ramai dan penuh dengan polusi. Aku sedang berjalan di pedestrian ketika suara-suara iseng menggodaku. Bersiul memandangi tubuhku dari ujung kepala hingga ujung kaki. Ternyata, sekumpulan supir ojek motor yang sedang mangkal menunggu penumpang.
“Wahai wahyu, kenapa engkau tak segera turun? aku butuh sebuah wahyu untuk menyelamatkanku. Apakah engkau rela jika aku terus dilecehkan pria seperti ini?”, keluhku dalam hati.
Kesunyian yang sesungguhnya menjadi kamuflase dalam keramaian kota. Aku merasa sunyi di antara kerumunan masyarakat ini. Aku diam dengan pandangan tak terarah. Di sebelah kiriku, sekelompok pria pendatang terlihat lelah menunggu bus yang tak kunjung lewat. Di sebelah kananku ada seorang perempuan muda yang selalu saja menengok arlojinya. Aku senasib dengan kumpulan pria pendatang, lelah berdiri menunggu bus. Namun, jika mereka memiliki teman sembari menunggu, aku tidak. Aku tetap sendiri sambil memikirkan, “Ke mana wahyu itu pergi?”.
Aku tidak senasib dengan si perempuan muda, karena nyatanya kekasihnya datang menjemput dirinya menggunakan kereta. Pertemuan yang membuat mereka tersenyum bahagia; mereka saling berpelukan sebelum akhirnya pergi dan menjauh dari jangkauan pandanganku. Aku iri, aku cemburu. Aku ingin seperti mereka, namun wahyu tak datang jua. Dan aku? sendirian.
Sudah maghrib, aku dapat mendengar adzan berkumandang di mana-mana. Aku sedang duduk di dalam bus kota yang rasanya sudah bobrok. Tapi, inilah realita. Jika hanya mampu mengeluarkan dua ribu perak untuk transportasi, jangan harapkan dapat duduk nyaman di sebuah taksi.
Aku pun tidak ingin mengeluh tentang hal ini, karena diriku sudah cukup dipenuhi keluhan dari jiwaku. Jiwaku yang tak kunjung menerima kenyataan bahwa wahyu masih belum menghampiriku.
Keadaan bertambah buruk ketika dua orang pengamen masuk dan menjual suaranya di dalam bus kota. Bukannya aku tidak menyukai kehadiran mereka, hanya saja dua buah lagu yang mereka bawakan membawa anganku dalam sebuah kenangan manis. Kenangan manis yang ketika itu tak kutemukan cacatnya sama sekali. Kenangan manis yang masih saja membuatku menunggu-nunggu kedatangan wahyu dalam jiwaku.
Lagu-lagu masih dinyanyikan dan bayangan tentang wahyu masih menghantui pikiranku, hingga tanpa ku sangka ada sinar mentari yang bersinar di tengah maghrib ini. Sang surya yang tak diharapkan untuk datang, nyatanya, muncul di dalam keheninganku. Sang surya menghapus sedih di wajahku, sambil membawa sepotong nada dalam interval pendek yang indah. Nuansa ketulusan membuatku mampu memberikan sebuah senyuman lagi untuk sekitarku.
Hingga malam ini, sang surya tetap bersinar terang untuk malamku yang gelap. Walaupun sang pelacur menggangguku dan mengatakan bahwa wahyu yang ku tunggu telah menjadi miliknya, aku tak peduli!
Sang surya telah menjelma menjadi ruh ketenangan bagi jiwaku. Dengan ucapannya yang begitu tulus, aku pun sadar bahwa aku tak boleh menguraikan air mata lagi. Dengan sepenuh hati, sang surya memberikan jiwanya yang penuh keindahan. Tanpa kericuhan, tanpa gejolak yang membuatku terguncang.
Namun..
Aku masih saja mengharapkan wahyu datang menjemputku.
Bukannya aku tidak mensyukuri eksistensi sang surya.
Aku hanya bimbang..
Aku hanya butuh jawaban dari semua teka-teki ini..
Aku ingin lepas dari sakit jiwa ini..
Anisa Widya Kirana_Poppy_2007